Syukur Mengubah Hidup Anda

Rabu, 14 Oktober 2009

S

yukur, suatu kata yang sangat berbobot dan memberikan makna yang tidak terhingga. Allah telah menjamin dalam Al Quran, barang siapa yang bersyukur maka Allah akan menambah nikmat kepada orang tersebut. Sudahkan Anda bersyukur? Sudahkah Anda merasakan tambahan nikmat atas syukur Anda? Apakah Anda ingin mendapatkan nikmat yang lebih besar lagi? Lupakan mengeluh, mulailah perbanyak syukur.

Ada dua manfaat besar dari bersyukur. Kedua manfaat ini akan mengubah hidup kita jika kita mendapatkannya.

1. Pahala dari Allah. Jelas, bersyukur adalah perintah Allah, kita akan mendapatkan pahala jika kita bersyukur dengan ikhlas.
2. Menciptakan Feeling Good. Dengan bersyukur akan membuat kita lebih bahagia. Perasaan kita menjadi lebih enak dan nyaman dengan bersyukur. Bagaimana tidak, pikiran kita akan fokus pada berbagai kebaikan yang kita terima.

Lalu apa manfaat Feeling Good?

* Jika Anda yang percaya dengan Hukum Daya Tarik (law of attraction), feeling good akan meningkatkan kekuatan Anda menarik apa yang Anda inginkan. Kekuatan hukum ini akan sebanding dengan keyakinan dan perasaan positif. Sementara semakin banyak kita bersyukur, akan semakin banyak perasaan positif pada diri kita.
* Motivasi akan muncul dari kondisi emosi yang positif (dibahas lebih lanjut pada ebook saya Motivasi Diri). Sementara bersyukur akan menciptakan emosi yang positif karena kita fokus apda hal-hal yang positif. Semakin banyak Anda bersyukur akan semakin besar motivasi yang Anda miliki.
* Bersyukur akan membentuk pola pikir sukses. Pola pikir sukses adalah keyakinan dalam mendapatkan. Saat kita bersyukur, maka pikiran kita secara tidak sadar diberikan suatu “pola” mendapatkan, sehingga akan terbentuk pola sukses.

Dengan melihat ketiga manfaat dari feeling good, kita bisa menyimpulkan bahwa feeling good adalah mungkin menjadi salah satu cara Allah memberikan nikmat tambahan kepada kita. Jika orang baru ribut dengan manfaat syukur pada kahir-akhir ini, Al Quran sudah 14 abad yang lalu. Sungguh suatu nikmat Allah yang diberikan kepada kita, sayang jika kita mengabaikannya.

Cara Meningkatkan Syukur
Saya yakin, Anda yang mau membaca artikel ini adalah orang-orang yang pandai bersyukur. Namun bukan berarti kita tidak perlu meningkatkan. Setinggi apa pun Anda menjadi hamba yang bersyukur, Anda masih tetap perlu meningkatkan syukur Anda. Jika Anda baru bersyukur saat menambatkan nikmat berupa materi, ini adalah baru tahap awal menjadi hamba yang pandai bersyukur.

* Untuk meningkatkan rasa bersyukur, kita harus lebih jeli dan peka terhadap berbagai nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Kurangnya kepekaan terhadap nikmat Allah akan mengurangi syukur kita, sebab kita merasa tidak ada yang perlu disyukuri lagi. Meningkatkan kepekaan bisa dilakukan dengan melakukan perenungan terhadap apa yang terjadi pada hidup kita sehari-hari. Luangkan waktu Anda setiap hari untuk merenungkan nikmat setiap harinya.
* Setiap saat, kita mendapatkan nikmat baru. Satu detik waktu berlalu berarti kita mendapatkan nikmat hidup selama satu detik. Nafas kita, penglihatan kita, penciuman kita, detak jantung kita dan sebagainya yang tidak mungkin disebutkan disini.
* Selalu ada hikmah dari setiap kejadian, baik kejadian pad diri sendiri maupun orang lain. Sementara setiap saat selalu ada kejadian, berarti selalu ada hikmah yang bisa kita ambil. Sementara hikmah adalah suatu nikmat. Syukurilah.

Sudahkah kita bersyukur hari ini?

Sumber: http://www.motivasi-islami.com/artikel/berpikir-positif/syukur-mengubah-hidup-anda/

Pembaca,
Anda senang dengan artikel ini. Silahkan luangkan waktu untuk menuliskan pendapat atau komentar Anda di bawah ini.
Feedback Anda akan sangat berguna bagi kami.
Terima kasih…

Readmore »»

Ketika Tertimpa Kesusahan

A

pa yang dilakukan saat kita tertimpa kesusahan? Kebanyakan orang mengeluh, marah, dan menyalahkan orang lain. Padahal, semua itu tidak akan menolong kesusahannya. Sesering apa pun kita mengeluh, kesusahan tidak akan hilang dari diri kita. Kita semua sudah membuktikannya.

Mengeluh justru mengarahan fokus pikiran kita kepada hal yang negatif. Energi negatif kita justru akan makin bertambah dan ini merusak mental dan kesehatan kita. Seharusnya, saat hal negatif menimpa kita, fokuskan pikiran kita kpada hal-hal yang positif yang membesarkan jiwa.

Langkah #1: Sebutlah Kebesaran Allah

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.: Bahwa Nabi saw. ketika tertimpa Kesusahan, beliau berdoa: “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun, tidak ada Tuhan selain Allah Tuhan Yang Memiliki Arsy nan Agung, tidak ada Tuhan selain Allah Tuhan segenap langit, Tuhan bumi serta Tuhan Arsy nan Mulia”. (Shahih Muslim No.4909)

Saat kita mengingat kebesaran Allah, maka sebesar apa pun masalah kita pasti kecil di hadapan Allah SWT. Hal ini akan membesar jiwa kita. Kita tidak akan kerdil lagi di hadapan kesulitan yang menimpa kita. Jika kita sudah bebesar hati, maka kita akan berpikir besar dan tindakan kita pun akan mampu untuk mengatasi segala kesulitan.

Langkah #2: Berdo’alah di Sepertiga Malam

Apabila tersisa sepertiga dari malam hari Allah ‘Azza wajalla turun ke langit bumi dan berfirman : “Adakah orang yang berdo’a kepadaKu akan Kukabulkan? Adakah orang yang beristighfar kepada-Ku akan Kuampuni dosa- dosanya? Adakah orang yang mohon rezeki kepada-Ku akan Kuberinya rezeki? Adakah orang yang mohon dibebaskan dari kesulitan yang dialaminya akan Kuatasi kesulitan-kesulitannya?” Yang demikian (berlaku) sampai tiba waktu fajar (subuh). (HR. Ahmad)

Setelah kita mengingat kebesaran Allah, dilanjutkan dengan panjatan do’a maka insya Allah kesulitan kita akan segera sirna. Kita sudah memiliki jiwa yang besar kemudian kita memiliki harapan karena do’a kita akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Langkah #3: Menolong Orang yang Dalam Kesempitan.

Barangsiapa ingin agar do’anya terkabul dan kesulitan-kesulitannya teratasi hendaklah dia menolong orang yang dalam kesempitan. (HR. Ahmad)

Seringkali kita berkata, “Bagaimana mau menolong orang lain, kita sendiri perlu ditolong?”

Justru, dengan menolong orang lainlah kita akan mendapatkan pertolongan dari Allah. Kita akan terhindar dari kesulitan jika kita menghindarkan kesulitan orang lain.

Mudah-mudahan saya dan Anda, kita semua, menjadi hamba Allah yang selalu ingat dengan kebesaran Allah, memanjatkan do’a di sepertiga malam, dan berusaha menolong orang yang dalam kesempitan semampu kita. Amin.

Sumber: http://www.motivasi-islami.com/artikel/ketika-tertimpa-kesusahan/

Pembaca,
Anda senang dengan artikel ini. Silahkan luangkan waktu untuk menuliskan pendapat atau komentar Anda di bawah ini.
Feedback Anda akan sangat berguna bagi kami.
Terima kasih…

Readmore »»

Nilai Sebuah Kepercayaan

D

ikisahkan, ada seorang pemuda yang dulunya hanya seorang office boy di sebuah perusahaan Jepang, tetapi sekarang ia telah berhasil menjadi seorang pengusaha sukses di bidang jasa.

Saat ditanya, bagaimana itu bisa terjadi, si pengusaha bercerita sambil bernostalgia. "Sebenarnya, pendidikan saya hanya SMP saja, itupun lulusan dari kampung. Saat diterima kerja sebagai pesuruh di kota besar ini, saya sangat senang sekali. Kata teman-teman di kantor, saya selalu bersemangat, murah senyum, dan siap membantu siapa saja yang memerlukannya. Bahkan bekerja lembur dan tidur di kantor pun, saya jalani dengan senang.

Tugas, yang pada mulanya hanya sebatas pesuruh, mengantar ini mengantar itu, menyediakan minuman, menyusun file-file, suatu hari meningkat menjadi pembantu adiministrasi saat ada anak kantor yang mengalami musibah dan tidak dapat menyelesaikan tugasnya, saya belajar mati-matian menggunakan komputer untuk membantunya mengetik.


Bos saya orang Jepang. Dan saya lah yang paling sering berada di ruangan bos, membantu dan menemaninya bekerja hingga malam hari. Perintah-perintah bos diucapkan dalam bahasa Jepang.

Pada awalnya saya tidak mengerti sama sekali. Dan, dari sanalah saya terpacu untuk belajar berbahasa Jepang. Karyawan dari Jepang yang bekerja di situ, sangat menghargai siapapun yang mau belajar bahasa mereka. Setiap hari, mereka mengajari sambil mentertawakan kebodohan saya jika salah dalam berucap kata. Oleh-oleh yang dibawa dari Jepang adalah buku-buku berbahasa Jepang yang saya minta.

Kira-kira empat tahun kemudian, tugas saya pun mengalami perubahan. Walaupun Tetap membantu serabutan, tetapi naik kelas menjadi asisten administrasi penghubung. Setiap ada tamu dari negeri sakura datang, saya yang menemani mereka menjadi penterjemah. Lama-kelamaan, saya dipercayai mengurus banyak hal, menghadap pejabat, menyampaikan pesan-pesan penting antar departemen dan sebagainya.

Sekian tahun kemudian, atas persetujuan dan bantuan Bos dan kepercayaan yang telah terbentuk selama ini, saya meminta izin untuk mengundurkan dan memulai usaha sendiri di bidang jasa, yakni mengurus berbagai perijinan hingga rekruting karyawan, khususnya untuk perusahaan Jepang yang hendak berinvestasi di Indonesia.

Bisnis saya bisa berkembang pesat seperti sekarang ini, tentu saja saya bersyukur atas semua ini, dan tetap belajar segala sesuatu agar bisnis saya terus berkembang dan berkembang.

Pembaca yang budiman,

Sebuah contoh proses perjuangan dari seorang karyawan yang biasa-biasa saja, sampai akhirnya bisa membangun usahanya sendiri dan sukses, namun semua itu tidak dia bangun dengan cara yang instan. Semasa masih menjadi karyawan, dia mau bekerja keras, jujur, dapat dipercaya, penuh tanggung jawab, dan mau belajar sesuatu yang baru serta pandai menempatkan diri sehingga kualitas karakternya yang positif itulah yang merubah nasibnya.

Sama halnya jika kita ingin berhasil. Mari kita mulai dari dimana kita berada saat ini. Belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh, mampu menjaga sekecil apapun kepercayaan yang diberikan.

Begitu integritas kita terbangun, maka apapun yang kita tekuni, lambat atau cepat pasti akan mendapat tempat dan pasti kesuksesan demi kesuksesan akan segera datang menyusul.

Sumber :http://www.andriewongso.com/awartikel-1443-Artikel_Tetap-Nilai_Sebuah_Kepercayaan

Pembaca,
Anda senang dengan artikel ini. Silahkan luangkan waktu untuk menuliskan pendapat atau komentar Anda di bawah ini.
Feedback Anda akan sangat berguna bagi kami.
Terima kasih…

Readmore »»

Filosofi Memanah

A

lkisah, di suatu senja yang kelabu, tampak sang raja beserta rombongannya dalam perjalanan pulang ke kerajaan dari berburu di hutan. Hari itu adalah hari tersial yang sangat menjengkelkan hati karena tidak ada satu buruan pun yang berhasil dibawa pulang. Seolah-olah anak panah dan busur tidak bisa dikendalikan dengan baik seperti biasanya.

Setibanya di pinggir hutan, raja memutuskan beristirahat sejenak di rumah sederhana milik seorang pemburu yang terkenal karena kehebatannya memanah. Dengan tergopoh-gopoh, si pemburu menyambut kedatangan raja beserta rombongannya.

Setelah berbasa-basi, tiba-tiba si pemburu berkata, "Maaf baginda, sepertinya baginda sedang jengkel dan tidak bahagia. Apakah hasil buruan hari ini tidak memuaskan baginda?"


Bukannya menjawab pertanyaan, sang raja malah beranjak menghampiri sebuah busur tanpa tali yang tergeletak di sudut ruangan. "Pemburu, kenapa busurmu tidak terpasang talinya? Apakah engkau sudah tidak akan memanah lagi?" tanya sang raja dengan nada heran dan terkejut.

"Bukan begitu baginda, tali busur memang sengaja hamba lepas agar busur itu bisa ‘istirahat'. Jadi, ketika talinya hamba pasang kembali, busur itu tetap lentur untuk melontarkan anak panahnya. Karena berdasarkan pengalaman hamba, tali busur yang tegang terus menerus, tidak akan bisa dipakai untuk memanah secara optimal".

"Wah, hebat sekali pengetahuanmu! Ternyata itu rahasia kehebatan memanahmu selama ini ya," kata baginda.

"Memang, kami turun temurun adalah pemburu. Dan pelajaran seperti ini sudah ada sejak dari dulu. Untuk memaksimalkan alat berburu, kebiasaan seperti itulah yang harus hamba lakukan. Mohon maaf baginda, masih ada pelajaran lainnya yang tidak kalah penting yang biasa kami lakukan."

"Apa itu?" tanya baginda penasaran.

"Menjaga pikiran. Karena sehebat apapun busur dan anak panahnya, bila pikiran kita tidak fokus, perasaan kita tidak seirama dengan tangan, anak panah dan busur, maka hasilnya juga tidak akan maksimal untuk bisa mencapai sasaran buruan yang kita inginkan".

Mendengar penjelasan si pemburu, tampak sang raja terkesima untuk beberapa saat. Tiba-tiba tawa sang raja memenuhi ruangan. "Terima kasih sobat. Terima kasih. Hari ini rajamu mendapat pelajaran yang sangat berharga dari seorang pemburu yang hebat."

Setelah cukup beristirahat, raja pun berpamitan pulang dengan perasaan gembira. Dan timbul keyakinan, lain kali pasti akan berhasil lebih baik.

Para pembaca yang luar biasa,

Pengertian tentang mengistirahatkan tali busur (agar saat dipakai lagi tali tetap punya daya lentur yang kuat) dan fokus dalam memanah, sangat baik sekali. Kedua pengertian ini dapat kita aplikasikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita butuh keahlian dalam mengatur irama kerja dan saat kapan kita harus beristirahat, agar keefektivitasan kerja tetap terjaga. Dan, kemampuan (untuk) fokus dalam melakukan segala kegiatan harus mampu kita bina dan tumbuh kembangkan.

Dengan kemampuan mengunakan dua kekuatan tadi, tentu kita akan menjadi manusia yang efektif dalam menggeluti usaha dan pasti (hasilnya) akan maksimal dan memuaskan.

Salam sukses luar biasa!!

Sumber: http://www.andriewongso.com/awartikel-3030-Artikel_Tetap-Filosofi_Memanah

Pembaca,
Anda senang dengan artikel ini. Silahkan luangkan waktu untuk menuliskan pendapat atau komentar Anda di bawah ini.
Feedback Anda akan sangat berguna bagi kami.
Terima kasih…

Readmore »»

Hipnotis dan NLP : Dari Penyembuh Fobia, Percepatan Belajar hingga Kesaktian

Kamis, 08 Oktober 2009

S

eperti diketahui bahwa belakangan training tentang hipnotis, yang biasanya diembel-embeli istilah NLP, atau sebaliknya, seolah tak ada jenuhnya diiklankan di berbagai media cetak. Bila disimak hampir setiap hari ada saja koran atau majalah yang memuat iklan tentang seminar hipnotis dan NLP ini.

NLP dan Perkembangannya
Beberapa sumber menyatakan mempelajari NLP mirip dengan mempelajari manual otak manusia. Kadang disebut sebagai people skill technology atau juga psychology of exellence. Prinsipnya adalah bagaimana mempelajari cara kerja otak agar seseorang bisa menjadi tuan dan bukan menjadi budaknya.

Sedangkan penggagas NLP–Richard Bandler yang pakar matematika dan programming komputer dan John Grinder yang profesor linguistik–merumuskan NLP sebagai the study of subjective experience. Keduanya mengembangkan dasar-dasar ilmu dan teknis penerapannya sejak tahun 1970-an.

Neuro merujuk pada otak atau pikiran dan bagaimana orang mengorganisasikan kehidupan mentalnya. Lingusitic tentang bahasa dan bagaimana orang menggunakannya dalam kehidupan. Sedangkan programming tentang urutan proses mental yang berpengaruh pada perilaku dalam mencapai tujuan dan bagaimana memodifikasinya.

Awalnya pencipta NLP mempelajari keahlian sejumlah pakar dan terapis yang amat sukses di bidangnya. Misalnya Fritz Perls (Gestalt Psychotherapist), Virginia Satir (terapis keluarga), Gregory Bateson (antropolog dan sibernetik) dan Milton Erickson (hipnoterapis).
Metode yang digunakan untuk mempelajari keahlian ini disebut ilmu meniru (modelling). Setelah bertahun-tahun memodel, keduanya berhasil mengembangkan teknik mental yang sangat berguna bagi dunia terapi. Oleh keduanya ilmu ini dikembangluaskan untuk meniru berbagai keunggulan manusia yang berkiprah di berbagai bidang.

Dalam perkembangannya NLP dipopulerkan oleh Anthony Robbins sehingga dikenal di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Nama besar yang tercatat menggunakan NLP untuk meraih kesuksesannya adalah Bill Clinton, Andre Agassi, Lady Di, Nelson Mandela dan lain-lain.

Singkat cerita dari dua tokoh pendiri itu selanjutnya berkembang sejumlah “aliranâ€Â besar NLP dengan modifikasi dan sebutannya. Sejak aliran Neuro Associative Conditioning (NAC) Anthony Robbins, New Code NLP dari Grinder, hingga pengembangan NLP ke arah DHE (Design Human Engineering) oleh Bandler yang menyebut alirannya sebagai Pure-NLP. Selain itu ada Michael Hall dan Bob Bodenhamer mengembangkan NLP menjadi Neuro Semantics (NS) atau Meta NLP. Yang terakhir ini biasanya digolongkan aliran akademis. Tokohnya akademis NLP lainnya adalah pendiri NLP University (NLPU) Robert Dilts. NLPU yang berkedudukan di California merupakan salah satu komunitas NLP terbesar dari ratusan komunitas yang ada di dunia.

Sedangkan dedengkot (pengembang) NLP jumlahnya hingga kini kurang dari 100 orang. Selain nama yang telah disebut ada Steve Andreas, Judith De-Lozier, Leslie-Cameron Bandler, Joseph O’Connors, John LaValle dan lain-lain. Bicara aliran NLP tidak dimaksudkan untuk memperbandingkan mana yang terbaik, namun untuk merunut arah pengembangan yang cenderung spesifik.

Setahu saya awal pertama kali masuk Indonesia sekitar tahun 1998-an, oleh beberapa orang. Saat ini saya lihat beragam sekali background pelatih NLP di Indonesia, beberapa orang Indonesia lulusan NLPU, ada yang murid langsung Bandler, ada yang lulusan NAC, selain itu ada yang mengusung berbagai aliran. NLP mulai dikenal luas di publik Indonesia sekitar 2003-an. Saya sendiri menggabungkan NLP dengan berbagai aliran hypnotism secara ekstensif. Ada lagi yang menggabung NLP dengan Mind Power yang tidak secara jelas mengusung aliran yang mana.

Tentu saja masih ada individu lain yang saya tidak terlalu mengenalnya namun juga pelatih NLP. Mereka semua menawarkan program seminar atau pelatihan ke publik berbentuk aplikasi NLP, dan ada yang menangani permintaan dari perusahaan. Secara umum permintaan training NLP ini sedang dan terus meningkat pesat hingga beberapa tahun mendatang.
RE dan RI

Yang terpenting adalah memahami soal model. Penjelasannya gambar manusia dengan otaknya. Apa pun yang masuk ke lima indera, baik lewat hidung, mata, telinga, lidah, tangan, akan diubah menjadi sinyal listrik (biolistrik) ke sistem syaraf dan dibawa ke otak. Fakta yang ada di luar diri disebut realitas eksternal (RE) yang dalam istilah NLP disebut territory. Begitu masuk lewat indera, RE diubah menjadi realitas internal (RI) yang dalam psikologi disebut persepsi atau sudut pandang, dan lain lain.

Contoh handphone (HP) di tangan saya. Saat melihat HP ini yang terlintas pada Anda mungkin kata jorok karena keypad-nya sudah jelek. Sedangkan saya berpikir ini HP kesayangan, kuno tapi masih enak dipakai. RE-nya sama. Tapi bagaimana kita merepresentasikan realita itu dalam pikiran masing-masing berbeda. Itulah RI yang dalam istilah NLP disebut map atau mental map atau peta pikiran. Jadi saat disebut map is not the territory artinya RI bukan RE. Nah ironisnya mazhab psikologi di awal perkembangannya (Psikoanalisis, Behaviorisme), gagal memahami hal ini. Bahwa manusia tidak bereaksi terhadap RE, tapi dia bereaksi terhadap RI-nya sendiri. Baru psikologi mahzab keempatlah yang memahami fenomena ini. Mahzab Behaviorisme tidak berhasil menjelaskan hal ini. Dan NLP awalnya muncul merupakan reaksi terhadap behaviorisme yang menganggap manusia seolah tak punya daya/pilihan untuk memberikan respons berbeda pada suatu stimulus yang sama.

Contoh lain saya teriak ‘asu’ ke Anda. Realitanya cuma ujaran satu kata itu. Tapi begitu masuk pikiran, tergantung Anda mengartikannya. Kalau RI Anda mengatakan ‘Ronny cuma bercanda’, Anda akan tertawa. Kalau RI Anda mengatakan, ‘ke orang lebih tua kok bilang begitu kurang ajar’, Anda akan marah. Marah tidaknya Anda berarti tidak tergantung ujaran ‘asu’ tadi. Tapi tergantung bagaimana Anda memaknai ucapan itu. Nah ketika RE diberikan makna melalui suatu proses tertentu, maka itu kemudian menjadi RI. Jadi map is not the territory, peta bukanlah yang sebenarnya atau RI bukanlah RE. Sedihnya, manusia sering tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya bereaksi (berespon) terhadap RI, tapi mereka mengira reaksi (respon) mereka adalah terhadap RE.

Dulu kita sering mendengar istilahsuccess is the mind game, sukses adalah permainan pikiran. Maksudnya it doesn’t matter with RE, yang penting RI-nya. Efektif tidak orang itu memahami RE? Ini basic NLP. Kalau Anda mau mengubah dunia apa yang dilakukan paling dulu? RI-nya to. Begitu mengubah RI, cara pandang Anda terhadap dunia berubah.

Kebanyakan yang sakit jiwa adalah orang-orang yang selalu mengira RI-nya adalah RE. Orang sehat seperti kita kadang sadar kadang enggak. Kalau orang gila bener-bener RI dikira RE. Wong edan RI dikira RE. Kalau orang sukses adalah orang yang bisa memilih untuk membuat (menciptakan pilihan) RI secara sadar terhadap suatu RE.

Core NLP adalah menguasai berbagai tools mengenai RI. Intinya nguplek-uplek RI, milik sendiri ataupun punya orang lain. Makanya di buku NLP Vol 1, Bandler menyebut bahwa NLP adalah the study of subjective experience atau NLP adalah kajian tentang pengalaman subjektif atau RI.

Jadi model NLP itu intinya Anda belajar menguasai pengalaman subjektif sehingga menjadi efektif dalam melihat dunia. Pikiran juga lebih efektif karena Anda menjadi master atau tuan atasnya. Modelling itu meniru, mengambil esensi excellency atau keunggulan orang atau diri sendiri agar bisa direplikasi di waktu dan tempat berbeda.

Contoh kongkrit
Misalnya, dalam hidup Anda pernah sangat percaya diri. Terus Anda diminta presentasi di depan BOD (Board Of Director) nggak pede. Saya (dengan menggunakan NLP) bisa membantu ‘mengambil’ pede Anda saat sangat percaya diri itu, saya bawa dan di-install di waktu lain di saat mau presentasi itu Anda bisa mengakses lagi pede tadi. Itu namanya Anda melakukan modelling diri sendiri.

Memodel orang lain juga bisa. Kita bisa meniru Walt Disney, ataupun memodel orang lain yang masih hidup. Bahkan pionir NLP Robert Dilts dalam artikelnya di http://www.nlpu.com/ menulis cara untuk dapat memodel keunggulan Yesus dalam hal wisdom (buka http://www.nlpu.com/Articles/article5.htm).

Esensi modelling adalah menduplikasi bakat dengan berbagai tools. Tools dalam NLP banyak sekali, salah satunya adalah hipnotis. Dalam kaitan ini NLP relatif tidak mengakui adanya bakat, yang supranatural sekali pun. Bakat adalah strategi atau urutan proses mental yang efektif dan bisa ditiru. Orang bisa punya bakat, yang seolah-olah turunan, karena dibiasakan atau terbiasa melihat bapaknya atau entah siapa. Secara unconscious hal itu menularkan pola pemikiran yang efektif.
Perkakas yang lain

Perkakas yang lain antara lain klarifikasi, anchor, reframing dan metafor. Ada ratusan tools, teknik atau pola-pola yang siap pakai. Nah kebanyakan orang di dunia itu cuma belajar tools tapi mengira sudah mengetahui NLP. Diajari teknik presentasi dengan NLP, setelah itu mengklaim saya sudah tahu NLP. Sedihnya kalau mereka merasa gagal, dibilang NLP nggak jalan. Ibaratnya orang yang baru membaca buku psikologi praktis terus merasa sudah tahu psikologi, kalau gagal dia bilang ‘Aalah psikologi nggak jalan kok’. Padahal yang diketahui sebenarnya hanya satu teknik di psikologi.

Tools ini hanya hasil akhir paling praktis yang paling gampang dilihat. Memang ini penting, tapi kalau itu saja yang dilihat terus menyimpulkan ‘NLP tidak jalan’ itu kan sama saja bohong. Jika diibaratkan di bidang teknik, maka orang yang seperti itu hanya jadi semacam tukang saja. Sedangkan bila menguasai ilmu NLP kita bisa jadi orang yang mampu menciptakan semua perkakas yang akan dipergunakan oleh para tukang. Kalau hanya belajar tools, kita hanya jadi tukang batu atau tukang kayu. Singkatnya belajar NLP adalah bahkan belajar menciptakan perkakas baru. Perbandingannya diberi pancing dengan diberi ikan.

Esensi yang terpenting itu saja dan selebihnya merupakan sejumlah terminologi dan teknik yang Anda harus dengan cepat menguasai. Saat belajar tools NLP, orang juga juga sering bingung karena banyaknya istilah, seperti di disiplin lain, yang satu sama lain kadang artinya bertabrakan atau malah tak berhubungan sama sekali. Misalnya anchor, yang artinya jangkar, dipakai sebagai istilah lain untuk picu. Istilah through time dalam Time-Line Therapy sering membingungkan jika disejajarkan dengan istilah in time, istilah submodality dalam NLP sering diperbandingkan dengan meta-modality dalam Neuro Semantic dan lain-lain.

Kaitannya dengan proses belajar
Saat Anda belajar apapun, lumrahnya tanpa sadar melalui empat tahap. Unconscious-incompetent, kedua conscious-incompetent, lalu conscious-competent dan terakhir unconcious-competent. Kalau tidak bisa nyetir, Anda tidak tahu apa tepatnya yang tidak bisa, Anda tidak tahu apa yang Anda tidak mampu (unconscious-incompetent). Saat seseorang mulai belajar nyetir, dibilang harus begini begitu lho, mindah gigi persneling, melihat kaca spion, ngerem dan lain-lain, akhirnya Anda jadi sadar kalau tidak kompeten (conscious-incompetent).

Lantas Anda belajar secara bertahap untuk bisa nyetir. Saat baru bisa nyetir mobil pasti akan ingat langkah demi langkah sejak hidupin mesin, nginjak kopling, masukin gigi. Inilah kita sadar kalau kita mampu (conscious-competent), itu kan kondisi paling stres. Skill yang conscious itu kan paling tidak enak. Apapun yang baru kita kuasai, kita harus mikir dulu, kagok sebelum melakukannya. Setelah itu lama-lama menjadi unconscious-competent, ilmu itu sudah dikuasai bahkan di bawah sadar.

Jadi sudah seperti otomatis dilakukan. Jadi biasanya orang belajar melibatkan kesadaran (conscious), padahal goal-nya supaya apa yang dipelajari bisa dilakukan secara unconscious. Nggak mau kan nyetir mobil tapi conscious terus? Lewat NLP atau hipnotis tahap belajar itu bisa loncat, tanpa melalui tahap dua dan tiga, tak melibatkan kesadaran. Kan enak. Tahu-tahu kita bisa. Ini dinamakan unconscious installation, sekalipun di dalam aliran NS-NLP kurang diakui.

NLP juga membantu orang bisa melakukan pemercepatan belajar (accelerated learning), caranya dengan: mengoptimalkan ke lima indera supaya terlibat sehingga kedua belahan otak terlibat, menggunakan anchor, mengupayakan state of mind tertentu (meta state, dll), menggunakan bahasa hipnotik dan seterusnya. Jadi accelerated learning bukan hanya ilmu menggunakan musik untuk mengiringi belajar saja.

Itu bisa berlaku saat belajar yang bersifat konseptual maupun keterampilan atau skill. Yang namanya skill dalam istilah NLP adalah mind to body atau mind to muscle. Apa yang kita pikirkan sudah ‘membodi’ dan masuk di ‘kesadaran’ otot. Nah ini di unconscious juga dikelolanya. Bisa dikatakan semua mekanisme di tubuh kita ini pada prinsipnya kan dikelola di unconscious. Tubuh kita itu kan kata orang seperti gunung es: 12% alam sadar, 88% alam bawah sadar. Karena tubuh itu dikelolanya pada alam bawah sadar itulah teknik hipnotis bisa dimanfaatkan secara optimal.

Kaitannya dengan Kemampuan Supranatural

Pertama ada baiknya kita pilahkan dunia ‘ngelmu’ dalam dua kategori, pertama olah Kekuatan Supranatural/Linuwih dan kedua penggunaan Kekuatan Pinjaman dari mahluk lain (dunia lelembut). Nah, disini kita hanya membahas yang pertama saja, ilmu-ilmu linuwih itu. Ilmu tersebut biasanya diperoleh dengan suatu lelaku atau diberikan oleh orang lain. Semua teknik menurut saya bisa dilihat dari states management (mengelola kondisi pikiran). Dalam dunia ngelmu , cara states management ini dilakukan melalui puasa mutih dan ritual lainnya.

Dalam NLP kita mengakses STATES ini dengan cara lain yang lebih modern, misalnya dengan anchor, dan lain-lain. Di sini kita mulai mengerti, kenapa NLP sering disebut demistifying tools. Beberapa orang yang belajar NLP untuk mengolah kemampuan ini sering salah paham, mengira NLP adalah klenik atau dianggap aliran New Ages belaka.

Suatu saat saya ingin mengumpulkan rekan-rekan yang suka klenik dan penggemar mind-power untuk sehari khusus diskusi terarah. Sebab saya sangat yakin bahwa ilmu yang aneh-aneh itu akan terjelaskan dengan NLP dan bisa diduplikasikan dengan lebih mudah. Misalnya ada seorang teman yang dulu saya anggap apa yang dilakukannya tidak masuk akal (linuwih).

Tapi sekarang kita bisa meniru beberapa kemampuannya tanpa menggunakan ritual, mantra, puasa apapun. Sebutlah seorang teman (paranormal) jika mau menolong membantu ‘menyembuhkan’ orang dengan mempraktikkan tenaga prana atau tenaga dalam. Dia bilang awalnya cuma dengan membayangkan sosok Semar. Ketika sudah terbayang jelas dan dia merasa jadi Semar, tahu-tahu kemampuan itu keluar dengan sendirinya.

Saat saya mau menerapkan itu ternyata tidak bisa, karena Semar bukan tokoh favorit yang bermakana apapun bagi saya. Setelah kita kaji, maka terlihat disini bahwa Semar itu hanyalah anchor atau picu untuk membangkitkan state of mind tertentu. Begitu dia membayangkan Semar, maka dia bilang Semar itu menimbulkan state : rasa welas-asih yang tak terbatas.

Di sini berarti saya harus mencari simbol lain yang lebih cocok. Suatu simbol yang jika saya bayangkan akan meng-generate rasa ‘welas asih’. Bagi saya, membayangkan anak sendiri atau orang tua saya justru akan membangkitkan rasa itu di pikiran dan mental saya.

Hal semacam ini bisa dipakai juga untuk tujuan memperoleh kemampuan linuwih lainnya. Semuanya hanyalah soal ‘ cracking’ atau ‘ unlocking the code’ . Bagaimana nge-crack bakat metafisikanya seseorang, sehingga bisa diduplikasi. Jadi sebenarnya adalah teknik mengetahui bagaimana sesuatu itu diketahui polanya. Intinya itu.

Begitu ketahuan polanya ya selesai. Semua orang bisa mempunyai kemampuan metafisik itu. Itu sudah banyak dibuktikan misalnya dengan menduplikasi kharisma, seperti yang dilakukan Bandler dengan pelatihan Charisma Enhancement, untuk kemampuan public speaking/trainer.

Pembangkitan Reiki dengan Hypnosis

Sebagai contoh, dalam suatu kelas training NLP, saya menghipnotis 30 orang. Sebenarnya saya hanya sedikit bisa reiki tapi tak bisa membangkitkan (meng-attune) kemampuan itu pada orang lain.

Saat mereka terhipnotis, dengan memberi instruksi untuk membayangkan aliran energi ini itu dan sebagainya, eh, tiba-tiba mereka bisa menyalurkan reiki.

Dalam memahami fenomena hipnotis diatas, harus disadari yang ’sakti’ bukanlah si penghipnotis. Yang ’sakti’ itu imajinasi orang-orang yang dihipnotis karena berhasil berkonsentrasi dan membayangkan pembangkitan kemampuan reikinya. (kata sakti, saya beri tanda kutip). Yang tidak berhasil mengimajinasikan ya tidak bangkit.

Hypnosis

Penghipnotis itu pada dasarnya cuma fasilitator. Saat saya menghipnotis Anda, yang terjadi saya memfasilitasi proses internal Anda. Begitu proses berjalan, Anda menghipnotis diri Anda sendiri. Jadi yang namanya hipnotis itu tidak ada, yang ada self hypnotic . Saya memfasilitasi proses internal Anda untuk sampai terhipnotis. Artinya tanpa saya, Anda bisa menghipnotis diri sendiri. Dan sekilas hipnotis itu memang lebih mudah dibantu orang lain, melalui cara percaya pada orang lain.

Hipnosis modern (western) itu berbasis pada ilmu komunikasi dan ini berbeda dengan sihir / mejik yang menggunakan kekuatan di luar diri sendiri (mistik). Beberapa pihak sering menyebut cara mejik / sihir ini sebagai ilmu gendam**. Ini agak salah kaprah, salah tapi sudah kaprah.

Yang dibicarakan di NLP adalah hipnosis yang merupakan kemampuan internal seseorang, yakni dalam menggunakan kekuatan komunikasi melalui kata-kata dan bahasa tubuh.

Soal Fobia
Sekarang kita bicara tools. Fobia itu apa? Fobia itu selalu terjadi saat high atau peak emotion of experience. Saat emosinya puncak, di titik ini visualnya atau auditorialnya melihat sesuatu dan terkunci (locked). Orang yang fobia sama tikus karena saat melihat penginderaannya seperti terkunci pada objek itu.

Kalau dalam istilah NLP momen itu disebut V/K association atau visual kinesthetic association. Stimulus visual menimbulkan reaksi kinestetik tak terkontrol atau kepanikan luar biasa. Kemudian ketika RE-nya (tikusnya) sudah tidak ada, dikageti “Hi.. tikus!” saja, atau membayangkan tikus saja, dia sudah ketakutan dan megap-megap. Jadi membayangkan tikus pun takut. Membayangkan itu letaknya di RI kan. Begitu kita bisa mengubah RI-nya -tidak dengan nasehat, tapi dengan terapi- reaksi ketakutan itu akan berubah.

Ibaratnya komputer, saat programnya diedit, di-save dan software-nya di-upload ulang, kan sudah berubah. Dari berbagai pelatihan bisa diuji bahwa ternyata memori dalam pikiran itu ada warnanya. Selama ini kita jarang menyimak soal ini. Biasanya memori yang kurang penting/tidak penting disimpan dalam bentuk ingatan hitam-putih, sedangkan memori yang penting disimpan dalam modus berwarna. Setiap orang beda-beda karena ada yang sebaliknya: yang tidak penting justru berwarna. Itu disebut sebagai blue-print ..

Orang fobia tikus, biasanya memori-nya warna-warni dan associated . Prinsip penyembuhan fobianya adalah mengubah struktur memorinya. Kalau gambarnya semula berwarna-warni, jadikan hitam-putih sehingga jadi tidak penting. Jika semula associated, maka ubahlah menjadi dis-associated. Begitu pula kalau sebaliknya.

Dan terapinya memang sesederhana itu. Asyik ya? He.. he..

Kadangkala instruksinya ya di-zoom out gambarnya, digerakkan, didiamkan, terus dibuat lukisan, seperti itu. Bandingannya file yang kita simpan di komputer yang pasti punya atribut, yaitu hidden, archive, read only dan systems.

Kalau hidden-nya kita aktifkan, file-nya jadi tak kelihatan. Kalau di-off, jadi kelihatan. Kalau read only -nya dihidupkan tak bisa di-delete. Kan gitu. Memori manusia juga seperti itu. Warna hitam-putih. Bergerak atau diam. Jauh atau dekat. Atas atau bawah. Itu disebut submodality.

Itulah yang merepresentasikan bagaimana Anda mengorganisasi memori Anda. Saat pengorganisasiannya diubah, sifat memorinya pun berubah. Tentu saja harus dipermanenkan. Jadi saat tikus dijadikan hitam-putih warnanya terus diberi anchor dan dipermanenkan, begitu melek lagi, tikus tadi sudah bukan objek menakutkan. Itulah prinsipnya editing memori. Prinsip dasar mengubah submodality ini terutama untuk menyembuhkan orang trauma yang kalau dilakukan dengan benar akan mengubah drastis reaksinya.

Begitu pula pada orang yang ingin berhenti merokok juga dengan mengubah submodality memorinya. Ini untuk ingatan yang positif maupun negatif karena semua memori punya content dan konteks atau struktur. Fobia itu content-nya negatif yaitu cemas. Tapi konteks atau strukturnya positif. Positifnya : sekali dilihat, ingat seumur hidup. Masalahnya yang dilihat yang jelek.

Kalau itu content-nya diganti gimana? Nah mekanisme photoreading adalah seperti kejadian fobia ini. Sekali suatu buku dibaca maka akan diingat seumur hidup. Enak banget karena orang bisa ingat isi sebuah buku dari depan sampai belakang tanpa perlu membacanya halaman demi halaman. Kenyataannya ada orang berkemampuan memori fotografis seperti ini. Belajar photoreading dengan NLP adalah dengan cara memodel orang berkemampuan seperti memory-photografic itu, sehingga setiap orang biasa juga akan bisa melakukannya tanpa harus punya bakat .

===

)**

Catatan tentang gendam.

Ada banyak simpang siur tentang gendam. Ada yang mengatakan gendam adalah hipnotis ada pula yang mengatakan adalah sihir. Keduanya adalah benar, maksudnya kedua “kubu” yang bertentangan itu sebenarnya membiarakan hal berbeda namun menggunakan istilah yang yang sama.

Misal kata “buku”, yang satu bilang buku adalah batasan ruas jari tangan, sedangkan yang satunya buku adalah sekumpulan kertas yang dijilid. Keduanya adalah benar, membicarakan hal yang berbeda namun istilahnya sama. Kesimpangsiuran semacam ini disebabkan belum dibakukannya istilah-istilah mistik semacam ini dalam bahasa Indonesia.

Adapun pihak yang mengartikan “gendam” adalah ilmu mistik untuk tujuan membuat seseorang tidak sadar. Biasanya ilmu ini bisa diperoleh melalui laku tertentu, tirakat, azimat, amalan (mantra). Alirannya bisa putih maupun hitam, intinya adalah ini bukan ilmu komunikasi seperti hipnotis, namun penggunaan “daya linuwih “. Saya rasa boleh saja mereka menyebutnya sebagai gendam juga, meskipun sebenarnya akak salah kaprah.

Di sisi lain, beberapa pihak menyebut “gendam” sebagai bagian hipnotis, ini juga benar. Gendam adalah salah satu teknik hipnosis yang menggunakan shock, pemutusan pola (pattern interrupt), dan pembingungan suyet (distraction/confusion ) sebagai jalan induksi.

Istilah gendam yang ini menjadi populer semenjak banyak kejahatan yang menggunakan cara ini di jalan-jalan.

Sumber:http://ronnyfr.com/index.php/2006/12/27/hipnotis-dan-nlp-dari-penyembuh-fobia-percepatan-belajar-hingga-kesaktian/

Pembaca,
Anda senang dengan artikel ini. Silahkan luangkan waktu untuk menuliskan pendapat atau komentar Anda di bawah ini.
Feedback Anda akan sangat berguna bagi kami.
Terima kasih…

Readmore »»

Lift untuk Menuliskan Sebuah Tujuan !!

M

enuliskan sebuah (beberapa) Goal (Tujuan) dalam hidup adalah sebuah hal yang sangat amat penting. Hal ini sudah saya ketahui sejak lama, banyak buku berisi pengalaman orang membuktikan hal itu. Untuk melakukannya pun amat lah sangat mudah sekali. Paling tidak ini menurut pendapat saya. Tapi entah kenapa, untuk benar-benar “menuliskan tujuan” tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Biasanya saya “hanya” men-setting goal saya dalam pikiran saya. Mempertahankannya dalam pikiran saya. Namun, seiring berjalannya waktu, saya tidak dapat mempertahankan goal saja tersebut dalam pikiran saya terus menerus.

Sebuah kejadian yang menggugah saya pada akhirnya untuk mulai menulis goal saya adalah, saat pulang kantor, ketika saya sedang turun lift sendirian dari lantai 5 menuju lantai 1. Ketika masuk ke dalam lift saya lupa memencet tombol lantai yang akan dituju. Setelah beberapa lama, saya baru tersadar kalau belum memencet tombol lift. Lalu saya segera pencet tombol 2 dalam lift tersebut sesuai dengan lantai yang akan saya tuju. Dan kemudian lift berjalan dan kemudian lift berhenti di lantai 2, saya keluar dari lift sesuai dengan lantai yang saya ingin tuju.

Saat itu saya mendapatkan sebuah pelajaran berharga. Ya, bisa dibilang semacam “blink” atau pencerahan “kecil”. Tulisan kecil ini hanyalah sebuah pemaknaan saya atas sebuah kejadian saja. Jika kejadian itu bisa bermanfaat buat saya, semoga artikel kecil ini bisa bermanfaat buat kita semua.

Saya mengibaratkan sebuah perjalanan kehidupan seperti menaiki lift, dimana kita bergerak menuju ke suatu tempat. Sebuah lift memiliki tombol-tombol yang akan membawa kita menuju lantai (baca : tujuan) yang diinginkan. Ini merupakan sebuah petunjuk bahwa dalam kehidupan, terdapat berbagai macam pilihan dan kita harus dengan sadar menentukan mana tujuan yang akan dicapai. Ya, kita lah yang menentukan dimana kita akan berada.

Kembali ke pengalaman di dalam lift. Ketika saya memencet tombol dalam lift, maka lift tersebut kemudian mulai bergerak ke tempat yang saya ingin tuju. Saat itu saya tiba-tiba diberikan pemahaman, melalui self talk, seperti inilah kalo kamu membuat sebuah Tujuan. Coba seandainya kamu hanya membayangkan saja dan tidak memencet tombol (baca : membuat tujuan kamu) maka lift tersebut tetap tidak akan bergerak. Ya.. kamu harus memencet tombol (menuliskan tujuan kamu) itu terlebih dulu supaya lift tersebut bergerak ke tempat yang kamu inginkan.

Saat kamu tidak memencet tombol maka kamu tidak akan kemana-mana. Dan jika ada orang lain yang “berbaik hati” memencetkan tombol lift dari luar, maka kamu hanya bisa mengikuti kemana lift itu menuju dan kemungkinan kecil lift itu menuju ke tempat yang benar-benar kamu inginkan. Kamu akan berhenti di suatu tempat, yaitu sebuah tempat yang ditentukan oleh orang lain.

Sejak kejadian itu, akhirnya saya mulai menuliskan GOAL-GOAL yang ingin saya capai. Ya.. saat ini saya sudah menuliskan beberapa GOAL yang saya tuliskan dalam sebuah buku tulis kecil. Saya jadi punya kebiasaan baru, membaca GOAL saya itu di pagi hari ketika bangun tidur dan malam hari sebelum tidur.

Ya, melalui kejadian di lift ini, saya sekarang mulai menuju tempat yang saya tentukan sendiri.. bukan yang ditentukan orang lain, apalagi “sekedar mengikuti garis takdir” yang “katanya” sudah ditentukan dari sananya.

Selamat menuliskan Goal-goal Anda.!!

Oleh : Chris Adi Kusuma, Licensed Practitioner of NLP ™

Sumber:http://republiknlp.com/2009/05/15/lift-untuk-menuliskan-sebuah-tujuan/#more-130

Pembaca,
Anda senang dengan artikel ini. Silahkan luangkan waktu untuk menuliskan pendapat atau komentar Anda di bawah ini.
Feedback Anda akan sangat berguna bagi kami.
Terima kasih…

Readmore »»

HYPNOSIS VS HYPNOTHERAPY : Pilih dengan benar


O

rang sering bingung dengan perbedaan antara hypnosis dan hypnotherapy. Bahkan di luar negeri ada pelatihan hypnosis yang hanya satu hari namun berani memberikan sertifikasi CHt kepada pesertanya. CHt adalah singkatan dari Certified Hypnotherapist. Wow, saya tidak ingin menyinggung siapapun, mungkin trainernya sendiri yang bingung!!

Mari kita bandingkan dengan seorang sarjana psikologi (S1). Mereka sepanjang kuliah selama 4 – 5 tahun saja terkadang belum berani menamai dirinya sebagai terapist. Demikian pula seorang psikiater, mereka diharuskan praktek dibawah bimbingan ahli selama beberapa waktu untuk kemudian bisa “dilepas” sebagai seorang terapis kejiwaan.

Jadi apa bedanya hypnosis dan hypnotherapy. Secara ringkas, hypnosis adalah suatu metode untuk mengakses alam bawah sadar seseorang. Jadi hypnosis hanyalah cara atau metode atau teknik saja. Sementara itu, hypnotherapy adalah suatu terapi yang dilakukan dengan bantuan metode hypnosis. Jadi orang dibawa kedalam kondisi hipnosa, lantas di dalamnya orang tersebut dilakukan terapi.

Terapinya apa?
Tentunya semua terapi dalam hipnosis berangkat dari suatu diagnosis bahwa “penyakit” (dalam tanda kutip), ini disebabkan oleh permasalahan kejiwaan yang berakar di bawah sadar. jadi proses “penyembuhannya” juga harus dilakukan di level bawah sadar.

Kenapa kata penyakit diberikan dalam tanda kutip? Karena istilah penyakit dalam kejiwaan tidaklah 100% benar. kadang yang disebut penyakit itu hanyalah suatu penyimpangan (perbedaan) dengan orang yang dianggap normal. Terkadang yang dianggap penyakit itu juga sebenarnya adalah persoalan belajar yang salah.

Jadi dengan demikian yang disebut penyembuhan adalah bisa jadi adalah penyesuaian dengan apa yang disebut normal, atau bisa pula penyembuhan berati juga suatu prose re-learning (belajar kembali).

Nah, jika hendak memilih seorang hypnotherapist, perlulah dipastikan, apakah ia hanya seorang hypnotist atau benar-benar sekaligus juga terapis. Salah satu pertimbangannya adalah, jika misal ahli hipnosis itu memundurkan umur si klien (regression), kemudian terjadi suatu abbreaction, yakni proses teraksesnya memori traumatik di masa lalu (biasanya tidak sengaja), maka seorang terapis akan tahu bagaimana cara mengatasi dengan benar. Nah,kalau orang yang hanya belajar hipnosis namun tidak tahu terapi, apa yang bisa diharapkan darinya?

Sumber:http://ronnyfr.com/index.php/2007/02/20/hypnosis-vs-hypnotherapy-pilih-dengan-benar/

Pembaca,
Anda senang dengan artikel ini. Silahkan luangkan waktu untuk menuliskan pendapat atau komentar Anda di bawah ini.
Feedback Anda akan sangat berguna bagi kami.
Terima kasih…

Readmore »»

Apakah Alam Bawah Sadar Itu Ada?

A

pakah sebenarnya alam bawah sadar itu?

Jika kita ajukan pertanyaan yang lebih provokatif misalkan, apakah alam bawah sadar emang ada?

Semenjak pertama kali disebutkan di dunia ini, istilah alam bawah sadar sudah memancing kontroversial. Kita bukan orang pertama yang mempertanyakannya, saat mengambil kuliah psikologi dulu, saya belajar bahwa sejak jaman awal perkembangan psikologi sampai sekarang belum semua ahli berdamai mengenai konsep ini.

Setidaknya ada beberapa pertanyaan yang menggugat keberadaan alam bawah sadar ini:

*
* Benarkah alam bawah sadar ini ada? Dari mana kita tahu?
* Jika benar ada alam lain di luar alam sadar, apakah itu emang letaknya di bawah kesadaran (sub conscious), atau mungkinkah letaknya justru di atas kesadaran (supra conscious), atau justru itu adalah alam tak sadar (unconscious)?
* Mungkinkah sebenarnya semuanya itu hanya ada satu alam pikiran saja, namun memiliki fungsi yang berbeda-beda? Jadi itu merupakan benda yang terpisah atau hanya fungsi yang terpisah?
* Alam “Bawah sadar?” Hmmmmmm…., jangan-jangan letaknya yang benar adalah yang “Alam samping sadar”…? Atau “Alam Belakang Sadar?” Atau malah “Alam Depan Sadar”?
* Ataukah malahan “Alam Agak Sadar”, atau “alam terlalu sadar…” karena ia bisa bekerja menggunakan kesadarannya sendiri…? Atau alam “sadar nggak sadar”…
* Dan seterusnya

Wah, gitu aja kok repot, barangkali itu yang akan dikatakan Milton Erickson ahli hipnotis modern jika ia hidup di jaman Gusdur. Capek dengan berbagai perdebatan itu, Erickson, memilih menggunakah istilah yang elegan yakni other than conscious mind. Sesuatu yang bukan alam sadar, entah itu apa. Kita tidak tahu bendanya, kita mungkin juga tidak bisa membuktikannya, namun kita bisa melihat karakteristik fungsi operasionalnya berbeda dengan alam sadar. Saya sendiri cukup senang dengan istilah dari Milton Erickson ini karena cenderung cocok dengan pandangan saya.


Saat berguru pada Andrew Bryant tentang Neuro Semantic, yakni ‘aliran’ NLP yang diusung oleh Michael T. Hall dan Bob Bodenhamer. Saya mendapat penjelasan yang berbeda dan menarik. Dijelaskan bahwa pikiran kita itu ibarat suatu perpustakaan yang memiliki sistem operasionalnya sendiri, namun kondisinya gelap gulita. Nah, manusia punya sebuah senter yang jika dinyalakan kira-kira bisa menerangi 1 meter persegi secara terang, dan sebagian remang-remang, sisanya yang mayoritas adalah gelap gulita.

Alam sadar adalah daerah terang yang disorot senter itu, sisanya adalah alam selain alam sadar. Jadi secara radikal penjelasan ini membedakan diri dari yang lain, dengan kata lain, sebenarnya alam sadar hanya eksis saat tertentu saja. Mungkin ini menjadi lebih mudah dimengerti, sebab jika kita sedang tidur memang pikiran sadar sepertinya tidak eksis lagi.

Nah, tentunya siapapun boleh berbeda pendapat dengan pandangan ini, lha wong namanya dari dulu juga sudah merupakan topik kontroversial. Saya sendiri cenderung cocok dengan dua pandangan ini, Milton dan Michael Hall. Sekalipun untuk mempermudah penjelasan, dalam pelatihan saya sering mengatakan saja alam bawah sadar, karena istilah ini lebih mudah diterima.

Jadi sebagai kesimpulan, istilah alam bawah sadar hanyalah cara kita untuk menjadi lebih mudah memahami bahwa ada fungsi pikiran yang tidak berada dalam dataran kesadaran.

Nah, untuk tujuan menggunakan script hypnosis, kadang lebih baik menggunakan istilah “alam tidak sadar”, karena ini dapat memicu terjadinya ambiguity yang amat powerful. Caranya?

Mengikuti NLP Practitioner akan menjelaskan itu semua.

Sumber: http://ronnyfr.com/index.php/2007/04/19/apakah-alam-bawah-sadar-itu-ada/

Readmore »»